Detik detik menjelang mudik.. Sibuk ngepak ini itu Tanpa bisa lepas dari lelaki kecilku Hampir lupa salam pamit
Bakal offline sejenak dari eMPi.. Padahal dari kemarin udah offlen melulu.. Hingga kita jumpa lagi Insya Allah, di tanah air kita bertemu
Usai Ramadan, ibadah suci tunai sudah Puasa dan zakat pelengkapnya Rayakan kemenangan dengan hati fitri Mohon maaf lahir dan batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1429H
Alhamdulillah, puasa sudah masuk hari ke 8 yaa.. Nggak terasa lho waktu bergulir bergitu cepat. Masih keinget hari ke 2 puasa yang begitu memble, seolah sudah menyentuh titik terendah beratnya berpuasa. Dengan panjang waktu puasanya masih sama (14 jam puasa), tapi beruntung banget karena puasa kali ini diringankan dengan cuaca yang begitu adem nggak sepanas tahun lalu. Cuman sebelnya, kalo pas tengah hari disini puasa lalu ngobrol dengan family di Indonesia yang sedang puasa, diiming-imingi ini itu yang bikin kita ngiler...hehehe...Alhamdulilah, masih tahan, puasa jalan terus!
Terinspirasi salah satu ibu DWP, jadi pengen tahu kayak apa sih dessert yang namanya Puding Tahu? Sempet ribut ngublek2 mbah Google nyari resepnya, eehh, mentoknya ya di blognya mbak Estherlita & Sefa. Setelah dikonfirm juga dengan berPM ria sama mbak Estherlita, akhirnya hari Sabtu 31 Agustus yang lalu kejadian juga dech bikin puding tersebut. Hari itu juga, pudingnya kita bawa ke rumah tante Yati di Hassocks, untuk acara 100 hari berpulangnya sang Suami. Itung2 bonus, karena tante Yati pesan tempe & tahu bacem, peyek teri & kacang, juga kue lapis singkong dari dapur kita.
Ternyata bikinnya gak rumit lho, dan setelah eksperimen yang kedua kalinya barulah nemu taste yang pas ala diriku. Kurang lebih, resepnya begini nih:
BAHAN: Susu 800ml (aku gak pake Condesed milk) Agar 1 bungkus Air 700ml Gula 5 sdtExtract almond 1/2 sdt Bubuk Almond 50 gr Garam 1/4 sdt Buah kaleng 2 kaleng Syrup buah (kali ini Robinsons grape & melon juice yang digunakan) secukupnya
CARANYA: Masukkan agar, susus, air, dan gula dalam panci, dan masak diatas api hingga mendidih. Saat akan diangkat, masukan bubuk almond & garam, aduk2 hingga rata. Setelah diangkat, tunggu sesaat baru masukkan extract Almond. Aduk2 dan tuang ke loyang untuk didinginkan. Setelah dingin dan mengeras, potong2 kecil dan siram dengan buah kaleng. TAmbahkan syrup buah, aduk hingga bercampur. Hidangkan dingin-dingin.
Oke banget dech, seger...Yumm....makasih banget buat mbak Estherlita & Sefa, soalnya recommend banget untuk dihidangkan di acara2 dengan banyak tamu. Buat yang tertarik, silahkan mencoba...
 Setelah minggu lalu posting Tempe Burger, kali ini pengen posting makanan sehat dengan bahan utama ikan Cod. Di UK, ikan Cod sangat populer untuk fish & chips. Berhubung bosen makan fish & chips, maka kali ini kita bereksperimen bikin Cod Fish Wrap. Bahan & caranya seperti berikut:
Bahan: Lembaran Tortilla Wrap Ikan Cod, potong2 sepanjang 8 - 10 cm dengan lebar 2 ruas jari, Rendaman air garam & jeruk nipis/asem supaya bau amis ikan hilang Tepung Jepang/ panir untuk coating, telur, & air (tambahkan garam jika perlu) Lembaran & Irisan Lettuce, Tomat, juga Bawang Bombay Mayonaise & Saus Linggam (jika suka spicy) Minyak untuk menggoreng
Caranya: Rendam ikan Cod dalam larutan asam garam, dan bilas sesudahnya. Celup ikan dalam larutan coating, goreng hingga kuning keemasan. Angkat & tiriskan. Hangatkan lembaran Tortilla Wrap di oven atau microwave. Olesi Tortilla Wrap dengan sedikit mayonaise & saus linggam. Tumpukkan irisan lettuce, tomat, bawang bombay & 2 pcs ikan Cod goreng. Gulung Tortilla tersebut, dan siap dihidangkan!
Kebetulan ada mas M. yang datang beli tempe, akhirnya kita bagi 1 gulung Cod Fish Tortilla Wrap tsb. Malamnya, si mas M kirim sms yang bunyinya:
"Terima kasih, mbak, rotinya mantap sekali. Saya beri nama roti mana lagi. Karena begitu habis, langsung nyari mana lagi??...."
Terinspirasi pola hidup sehat, dan ingin mempromosikan Tempe bikinan sendiri, akhirnya hari Jumat yang lalu jadi juga kita bikin Tempe Burger. Ada sekian metode yang ada di otak, untuk mengolah Tempe, tapi berhubung ini yang pertama kalinya maka kita nyoba pake cara yang paling mudah dan hasilnya tidak mengecewakan. So tasty and tender, and yummy....! Gampang kok coba aja sendiri!BAHAN:Roti burger siap pakai, hangatkan dalam ovenTempe, iris dengan ukuran sedikit lebih kecil daripada roti burger & ketebalannya 1,5 cm,rendam di larutan garam, bawang putih, dan ketumbarTepung Panir, air, & telur (jika perlu) untuk coatingMinyak untuk menggorengLettuce segar, cabik sesuai selera,Tomat, iris-iris,Onion, iris-iris,Keju parut (bisa gunakan lembaran keju),Mayonaise & Sambal LinggamCARA MEMBUAT (gampang banget bhoo...):1. Tempe direndam (marinated) dikukus selama 15 menit. Setelah empuk, angkat, dinginkan dan celupkan dalam coating tepung panir dan selanjutnya digoreng hingga kekuningan.2. Olesi satu sisi burger yang sudah hangat dengan sedikit mayonaise & juga sambal Linggam (jika ingin sedikit spicy), letakan sejumput lettuce diatasnya, irisan bawang putih, irisan tomat, dan tentunya Tempe Tepung yang sudah didinginkan dari penggorengan. Jangan lupa taburi Tempe Tepung tersebut dengan keju parut, sebelum meletakan burger penutup di bagian paling atas.3. Siap dihidangkan & dinikmati!
Just want to help spreading the words, as I received this vacancy from a dear friend Good luck if you are interested!
REPRESENTATIVE OFFICE MANAGER
A reputable French company specialized in wooden furniture export and located in Semarang, Central Java is looking for a team manager having first experience in production in wood processing industry (solid and veneered furniture).
Profile required : - Technical background ( wood engineer or equivalent ) European minded profile - Indonesian and foreign applicants are welcome to apply - 3-5 years experience - Open minded to other cultures - Rigorous, volunteer and persevering - Good communicating skills - Fluent English - French is highly appreciated
Main goals : - Manage the office budget together with administration team - Management and training of local Q.C. team - Organizing and following production plans with subcontractors - Create and implement procedures - Development files : prototyping and pricing
Please submit your application to : ip.recruitment@yahoo.fr not later then this 24 May 2008
Thanks and regards IP. Management
Hampir seminggu ini Panas makin jadi Kabur sudah salju putih Berganti terik sinar matahari
Gerah di siang bolong Ada yang mulai rembes dari ketiak Lalu meluncur menuruni punggung Oh NO!! keringat bikin panik!!
25C siang hari Udah cukup bikin mringis Nggak kebayang Juli nanti Mandi keringat setiap hari
"Its gettin hot in here (so hot) So take off all your clothes I am gettin so hot, I wanna take my clothes off ......" (Nelly, Hot in Herre)
*Yang rindu bau keringat.... *
Barusan belanja di ASDA, salah satu supermarket besar di UK. Saat bayar di kasir, kita dikasih tahu bahwa tidak lama lagi mereka nggak akan kasih kantong plastik ke pelanggan untuk memuat barang-barang belanjaan mereka. Tapi mereka menyediakan kantung plastik yang agak tebelan yang bisa digunakan berulang kali -istilahnya bag for life, padahal sama aja bisa sobek.. -, dan tentunya nggak gratis, dengan harga satuan 5p. Akhirnya aku setuju membeli beberapa bags for life itu... tapi tetep aja sampai rumah udah bolong kesangkut kawat....
Dipelopori oleh Marks & Spenser bulan February yang lalu, perang plastik dimana supermarket tidak menyediakan kantung plastik pemuat barang-barang belanjaan pelanggan seolah menjadi trend baru di UK. Sebagai umpan, M&S memberikan bags for life gratis kepada para pelanggannya, tentunya dalam jumlah terbatas, dan selanjutnya mereka akan menagih 5p untuk setiap kantung plastik yang digunakan pelanggannya. Langkah M&S ini sudah diikuti oleh Wing Yip (supermarket Oriental) dan ASDA, dan aku yakin bakal segera diikuti sederetan supermarket-supermarket besar lainnya.
Untuk pelanggan seperti aku yang demen mendramatisir kebutuhan kantong plastiknya, bahkan kadang2 suka negrampok tas plastik dari kasir , policy ini terasa begitu menyebalkan. Bukan apa2, pertama kita masih menggunakan ulang kantong-kantong plastik tersebut di rumah untuk membungkus sampah rumah tangga. Otomatis kita sekarang harus beli kantong sampah khusus hanya untuk membungkus sampah rumah tangga = expense tambahan. Yang kedua, kita jadi harus selalu siap sedia tas belanjaan dari rumah jika kita nggak pengin beli tas plastik di supermarket. Hitung saja, jika kita butuh 10 kantong plastik berarti 50p terkuras dari kantung kita. Dan kalo belanjanya seminggu 2 kali, selama setahun maka setidaknya £53 sudah habis hanya untuk belanja tas plastik. Ini juga sama dengan expense yang nggak perlu....
Rupanya keprihatinan terhadap kondisi lingkungan hidup yang semakin tidak sehat akibat sampah (terutama sampah plastik), sangat mengispirasi banyak orang untuk hidup dengan cara yang lebih bijaksana. Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa jargon "eco friendly" mendapat tumpangan komersial dan politik didalamnya. Setidaknya gaya hidup yang lebih sehat akan memperlambat sakitnya bumi tempat kita tinggal, walau mungkin tidak membuatnya sehat seperti sedia kala. Dan setidaknya, kita memberi kesempatan kepada anak cucu kita untuk ikut menikmati indahnya alam ini....
*Pic courtesy of BBC
Kala Mentari surut enggan menyapa, Angin berhembus dingin mengigit Pohon merunduk gugurkan dedaunan Bulir air runtuh basahi bumi Kenangan lama hadir bertandang Tepat di penghujung bulan Ramadhan Nyalakan api rindu untuk pulang Bersuka hati bersama sanak keluarga Apa mau dikata tugasNya masih menanti Di rantau, dari lubuk hatipun terucap Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428H Mohon Maaf Lahir dan Batin LONDON, WEDNESDAY, 10 OCTOBER 2007; 20.00
Setelah kemarin sempat Menimbang Pulang, akhirnya dengan mengucap "Bismillahirrohmannirrahhiim...", kita memutuskan untuk pulang juga. Karena sayangnya pada istri dan anak, suamiku akhirnya memilih untuk mengantar dan menemani kami ke Indonesia (ceilee...., padahal kayaknya juga karena suami ingin ikut jalan-jalan ...) Jadi Insya Allah, kami akan berangkat besok pagi dari Heathrow menuju Soekarno Hatta, untuk selanjutnya berkumpul dengan saudara di Jakarta, Salatiga, Yogya. Kebetulan juga ada acara akad nikah kakak laki-laki yang kemarin "kulangkahin", jadi memang dipas-pasin biar bisa pulang lagi. Kemarin memang sempat lama menimbang: pulang berat, nggak pulang juga berart. Tapi ya sudah, dimantepin kita pulang aja...
Nggak tau apa selama pulang masih bisa menengok MP, jadi kalo nggak nongol beberapa saat harap maklum ya temans... Oya, sekalian nih mau mohon doa semoga perjalanan kami lancar dan bisa kembali ke London dengan lancar dan selamat. Dan semoga kita bisa segera ketemu lagi... Bye for now....
NB: JAngan kaget ya kalo mungkin aku bakal nyoba menghubungi teman2 MPers.. siapa tau bisa kopdar....
Akhirnya jadi juga. Hari Minggu, 11 Juni kemarin, charity event untuk Yogya Quake yang sudah dirancang 2 mingguan ini terlaksana juga. Dari pagi, kita yang di rumah sudah sibuk nyiapin macem-macem. Dari nyiapin barang sumbangan untuk di-auction, snack -kita bikin Kue Lapis Singkong & Perkedel, dan tenda2 untuk bernaung dari panas. Sudah seminggu ini London panasnya udah hampir kayak Jakarta, mana "humid" lagi. Jam 1an salah seorang teman udah nongol untuk bantuin masang tenda, tentunya dengan bawa barang sumbangan. Dan akhirnya persiapanpun kelar jam 2, tepat saat para undangan mulai berdatangan. Acara ini berlangsung santai. Undangan berbaur dan ngobrol-ngobrol sambil menikmati makanan ringan dan indahnya cuaca hari ini, tentunya. Snack yang tadinya cuma 2 macam dari tuan rumahpun menjadi beraneka ragam, hasil buah tangan para undangan juga. Jelang jam 4 sore, acara dimulai. Kita hening sejenak untuk mereka yang tertimpa musibah, dan acara lelang dimulai. Semua barang adalah sumbangan dari undangan, dan yang belipun undangan juga!! Jadinya kayak acara tukar menukar kado ya?? Tapi gak masalah, yang penting semua barang ludes dan uangnya bisa dikirim untuk ngebantu saudara2 kita di Yogya. Barangnya macem-macem, dari alat olah raga Twist O'Shape sampai kaset Video yang tebel2 itu, dari boneka sampai piring & mug. Yang paling laris, adalah scarf2 motif batik sumbangan mbak Nanik. Dan karena kehabisan barang untuk dilelang, akhirnya perkedel simpenan dikeluarin juga untuk dilelang. Habis masih semangat, dan perkedelnya jadi favorit... ya udah, dilelang aja.... Akhirnya sejumlah uang terkumpul dari hasil lelang dan kotak amal. Dan kita masih menunggu kiriman dari beberapa temen yang sudah konfirm mau nyumbang. Moga2 aja mereka nggak lupa, dan insya Allah bisa segera kita salurkan. Ngomong2 nyumbang, barusan aku diminta nyumbang tarian untuk acara sejenis yang diadain ibu2 Dharma Wanita KBRI. Rencananya nyumbang tari Merak, walupun mungkin lebih tepat dibilang tari babon, lha wong ijeh lemu jeee..rampung nglairke anak lanang.. tapi yo wis ra popo laah.. isane nyumbang tenaga... Duitnya udah masuk ke kotak amal yang tadi ... kekekeke...
Dear MPers, Picked up from an email, as per the writer's notice, the story below is from the man himself who suffered from the the Yogya quake. Funny, but still bitter and sorrow...
Family faces Saturday morning of naked fear National News - June 06, 2006 Suherdjoko, based in Semarang, Central Java: I
couldn't believe that the 57-second earthquake had damaged my house and
those of my neighbors in Kampung Timuran, in the heart of Yogyakarta
city. We -- I,
my wife and three children -- arrived in the city on Friday. My
children were on their school holidays and I was planning to take them
with me to report from the Borobudur Temple the next day. We slept in
the house, built in the 1960s, that night. The
next day, I woke up for my morning prayers. Then I woke up my eldest
child, Alun, 9, and he took a bath. My wife, Rika, did the washing.
After Alun finished taking his bath, he watched television and Embun
came out and slept near her brother. It was my turn to bathe. Just
as I was putting on the soap, the house suddenly began shaking hard. I
realized it must be an earthquake. My wife was already outside,
yelling. Without
thinking, I ran straight out of the bathroom. The first thing that
crossed my mind was my children. In the living room, Alun was gone, and
Embun was no where in sight -- there was only her pillow. I panicked at
bit. But my daughter Pelangi was still in the room, sleeping. I picked
her up and carried her outside. It turned out my wife had Embun with
her but she was still calling Alun's name and had gone inside. When I saw Alun outside, I came into the house to inform my wife. At that point, I realized that I wasn't wearing anything
and rushed inside the bathroom to get my underwear. Soon, I was outside again. Aftershocks shook the ground. Outdoors, my wife and three children were safe. A
house to the west ours had collapsed and its debris were littering our
front yard. In the east, dust rose up in the air. It looked like cloud
but it came from five of our neighbors' houses that were flattened. Instinctively,
I grabbed my camera from inside my bag in the house and went to my
neighbors houses, taking photos here and there. I also took a picture
of my neighbor Heru, who was looking for his niece Endah Purwaningsih,
21, who was buried under the collapsed house. We all helped him to find
her. After an hour, we found her, alive. But our little neighbor,
Faizal, 6, died. Everyone was outside their houses. Some
people were suffering from head injuries or broken legs. I told them to stay as far away from their houses. Out
of sudden, some girls, students who were gathering in the street,
started laughing hard. I was angry. "Don't you laugh", I told them
"this is disaster. It's not funny'. They were only laughing at friends
who had no bras on. Then I realized that I had been walking around the
village in only my underwear. I
went home but did not dare to step inside. Parts of my house had
collapsed and the remaining structure was badly cracked. I went to a
well in the yard and washed the soap away. I then borrowed some clothes
from my neighbor before taking a motorcycle to check out the rest of
the village. From the south,from the direction of Bantul, I could see
many trucks carrying quake survivors. About
that time people started to panic after hearing a rumor there would be
tsunami. I went back home and told my neighbors I was taking my family
to a relative's house in Kulonprogo, some 20 kilometers west of
Yogyakarta, in my old Kijang van. Our house is no longer safe to live
in, I said. Kulonprogo
was relatively safe. No houses had collapsed there but many people were
afraid to stay indoors. I left my wife and children there and went to
do some reporting. When
I got back to Kampung Timuran, I asked my neighbors to set up a tent in
a field at the back our house, which we turned into a shelter. Many
people ended up sleeping there -- and some are still. I don't know for
how long, because many of their houses were ruined. (*)
Sudah 2 hari aku penasaran ngutak atik tampilan MPku ini. Penasaran banget liat tampilan MP-MP yang lain yang keren-keren. Udah gitu rasanya tertantang abis dan pertanyaan "Kok mereka bisa sich, gimana caranya ya?" terus menerus menggelitik benakku. Hampir menyerah, ketika aku menemukan tips-tips canggih seputar updating lay out dari MP-MP yang lain. Dari jeng Hani, mbak Mamiek, ibu Jempol dan masih banyak lagi, yang kalo ditulis bakal menuhin blog ini. Nggak berhenti sampai disitu saja, aku jadi browsing ke web-web yang aku belum pernah datangi dan mencoba hal-hal baru. Begitu berhasil 1 langkah awal, wwwaaa seneng banget... Rasanya pengen nyiumin mereka sampai pipinya ludes. Tapi begitu mentok dengan yang selanjutnya, rasanya pengen ngetuk rumah mereka terus ngrecokin mereka minta diajarin sampai berhasil... MAklum, gaptek... Kesibukan ber-MP-ria inipun seolah-olah menjadi hobi baru, yang bisa membuat suami tercinta dan Ghani tersayang jadi tersaingi. Gimana nggak, setiap saat yang dibuka MP melulu sampai suami melotot sembari teriak, "apaan tuch? apaan tuch??" dan Ghani merajuk ak-ek-ok, ak-ek-ok minta diperhatikan. Tapi tetep aja, baru 5 menit bersama mereka sudah balik lagi ngadep layar komputer. Maafkan ibumu nak... tapi kamu mengerti kan? Sesaat baru aku tersadar, bahwa aku sudah lama nggak merasakan "letupan-letupan" seperti ini. Excitement ini berbeda dengan excitement mengurus anak, mengurus suami, mengurus rumah tangga. Kali ini bukan mengenai orang lain, it's all about ME, and God, I really miss it!! Bukan maksudnya nggak bahagia, but i just feel better than before... Dan semakin sadar & mengerti, apa yang terjadi dan apa yang harus kulakukan. Thought the flame has faded and maybe even lit off, and I'm so glad that I'm wrong. Alhamdulilah, puji syukur, sembah nuwun Gustiii....kulo masih diparingi berkah semangat... matur nuwun masih diparingi tuntunan, jalan terang, lewat tulisan teman-temanku dan bahkan mereka yang belum aku kenal. Dan terima kasih teman, kalian telah mau berbagi...For Relighting My Fire, I'M Thanking You..
Jangan bingung, jika suatu saat merasa: Tidak lapar, Tidak kenyang Tidak hampa, Tidak berisi Tidak takut, Tidak berani Tidak sedih, Tidak gembira Tidak optimis, Tidak pesimis Tidak menangis, Tidak tertawa Tidak sepi, Tidak ramai
Hanya Hening dalam gerak, Hening dalam benak, Hening dalam swara, Hening dalam rasa Hening dalam nafas, Hening dalam bentuk, Hening dalam kalbu Hening dalam hidup, Hidup dalam Hening....
Hanya Hening...
Percayalah, itu karena Dia ada bersama kita.... selalu....
Djakarta, 11 Mei 2006
| |